Dari Benci Azan Jadi Penggerak Pengajian Mualaf: Kisah Inspiratif Yuli Alim!

Dari Benci Azan Jadi Penggerak Pengajian Mualaf: Kisah Inspiratif Yuli Alim!

Siapa sangka, ada cerita inspiratif dari seorang wanita Tionghoa bernama Yuli Alim. Dulu, ia lebih dikenal dengan panggilan “Amoy”. Kisahnya masuk Islam ini benar-benar bikin merinding dan penuh liku.

“Nama saya Yuli Alim, saya orang Cina, orang Tionghoa, dulu dipanggilnya Amoy,” ujar Yuli, seperti yang diceritakan di kanal Youtube Ngaji Cerdas.

Awalnya, Yuli tinggal di dekat masjid selama dua tahun. Bukan merasa nyaman, ia malah sempat sebel banget tiap denger suara azan.

“Dulu, suka keganggu gitu tiap denger suara adzan itu yah, kaya apa sih berisik banget,” kenangnya.

Tapi, di usia 17 tahun, entah kenapa, perasaannya berubah drastis. Setiap kali azan subuh berkumandang, hatinya kok malah sedih banget, rasanya kayak ada orang meninggal. Nah, perasaan aneh inilah yang bikin dia penasaran sama Islam.

“Akhirnya saya lihatin itu orang Islam kan beda yah dari agama saya. Ternyata mereka tuh cuci tangan, cuci kaki, cuci mulut, bajunya putih-putih gitu baru menghadap Tuhannya. Saya pikir di situ inilah agama yang sebenarnya,” cerita Yuli.

Diam-diam, niatnya untuk masuk Islam makin kuat. “Jadilah saya mau masuk agama Islam gitu, tapi diem-diem. Soalnya kan di agama saya kalau agamanya beda sama keluarganya, dianggapnya sudah tiada gitu,” lanjutnya.

Jalan menuju hidayah ternyata nggak mulus. Waktu mau masuk Islam secara resmi, ia ditolak sama penghulu karena masih di bawah umur dan belum punya KTP. Saking pengennya, Amoy sampai nekat bikin KTP palsu biar bisa mualaf.

Setelah berhasil mengucapkan dua kalimat syahadat, ia dibolehin tinggal di rumah penghulu selama sebulan buat belajar sholat, mengaji, dan basic-basic Islam.

“Saya dibolehin tinggal sebulan di rumah Pak Penghulu. Dia ngajarin saya shalat, ngajar ngaji, ngajar baca Quran gitu,” kata Yuli bersyukur.

Tapi masalah baru muncul. Keluarganya akhirnya tahu keberadaan Yuli dan membawanya pulang. Mereka bukan cuma nggak setuju, tapi malah memperlakukan Yuli dengan kasar.

“Jadi saya pulang, terus ditanyain di situ kenapa saya pindah agama Islam. Saya enggak kuat ngomong, saya nangis aja di situ,” ucapnya lirih.

Ia mengalami perlakuan yang nggak mengenakkan dari keluarganya sampai akhirnya cuma bisa pasrah.

“Saya bilang, kalau saya mati pun di sini ya sudahlah enggak apa-apa. Saya juga enggak tau gimana cara mempertahankan agama Islam saya ini. Tapi alhamdulillah, mukjizat Allah itu ada, saya selamat malam itu,” tuturnya, sambil mengenang moment yang menegangkan.

Saat itu, yang bisa dia lakukan cuma terus berdoa.

Berbulan-bulan Yuli harus menerima perlakuan nggak menyenangkan di rumah.

“Pas saya sudah enggak kuat di situ, saya akhirnya memutuskan untuk lari dari rumah,” kata Amoy.

Selama dalam pelarian, ia berusaha cari kerja. Setahun setelahnya, ia menikah dengan seorang pria muslim, berharap bisa dapat bimbingan. Tapi sayang, rumah tangganya nggak berjalan lancar, dan akhirnya dia bercerai.

“Saya berjodoh habis setahun saya kabur, dia lelaki muslim, saya pikir dia bisa membimbing saya, kenyataannya enggak. Jadi kami bercerai, anak ada 2 enggak tahu deh enggak sama saya,” ucapnya dengan nada getir.

Saking putus asanya, Yuli sempat beberapa kali mencoba mengakhiri hidup. Mulai dari loncat dari jembatan tol, gantung diri, sampai minum cairan pestisida satu kaleng penuh. Tapi luar biasa, semua usaha itu gagal. Setelah menenggak pestisida, Amoy justru koma selama seminggu.

“Kawan saya dateng dan pas saya bangun, dia bilang: Kamu kok masih hidup moy, orang mah minum sesendok aja udah mati, lah kamu ga mati-mati. Saya juga bingung kenapa bisa,” tutur Bu Yuli. Ia yakin, Allah masih ingin ia hidup di dunia demi beribadah kepada-Nya.

Setelah keluar dari rumah sakit, semangat Yuli kembali bangkit. Ia mulai jualan nasi pecel di sekolah. Rezeki datang lagi, ia menikah lagi dengan lelaki yang benar-benar membimbingnya dalam Islam.

“Alhamdulillah sekarang saya berjodoh dengan lelaki Islam yang bisa membimbing saya. Namun, dia bekerja di kapal, jadi jarang ketemu,” katanya.

Dari pengalaman hidupnya yang penuh cobaan, Yuli akhirnya tergerak untuk melakukan sesuatu. Ia membuka rumahnya sebagai tempat ngumpul dan belajar buat para mualaf di sekitarnya. Ia bahkan mendatangkan ustadzah biar mereka bisa lebih dalam memahami Islam.

“Saya minta izin ke suami untuk buka pengajian mualaf di rumah, saya panggil ustadzah gitu buat ngajarin saya sama mualaf yang lain. Alhamdulillah boleh dan sekarang masih berjalan,” ujar Yuli. Kisah Yuli ini jadi bukti nyata kalau hidayah itu bisa datang kapan saja, bahkan dari rasa benci sekalipun, dan perjuangan dalam mempertahankan keyakinan itu memang luar biasa.

source: https://muslim.okezone.com/read/2024/11/29/621/3090780/kisah-amoy-masuk-islam-awalnya-sempat-benci-azan-hingga-kini-buka-pengajian-mualaf?page=all

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *