Subhanallah, ada kisah yang bikin hati bergetar. Kisah tentang seorang ibu dan anaknya yang menemukan jalan pulang ke Islam — dengan cara yang nggak terduga sama sekali.
Dari Bekasi, datang cerita Alvian dan sang ibu, Ibu Titik Priti. Dan ceritanya? Bikin merinding, deh.
Seorang Pencari Kebenaran
Alvian bukan tipe yang menerima sesuatu begitu saja. Sejak kecil, dia dikenal suka bertanya, merenung, dan mencari kebenaran.
Dia tumbuh di keluarga yang secara administratif beragama Kristen. Tapi di hatinya, selalu ada pertanyaan:
“Apakah ini benar-benar keyakinan yang menenangkan?”
Pertanyaan itu makin kuat seiring waktu. Sampai akhirnya dia berdialog, belajar, dan menemukan ketenangan dalam Islam.
Dengan penuh kesadaran, Alvian mengucapkan dua kalimat syahadat.
Ibu yang Tinggalkan Islam, Tapi Hatinya Rindu
Di sinilah kisahnya makin dalam. Sang ibu, Ibu Titik Priti, sebenarnya terlahir sebagai Muslim.
Tapi perjalanan hidup membawanya pada keputusan berat. Suaminya kembali ke agama Kristen. Dan sebagai istri, dalam tekanan, dia ikut. Status KTP berubah. Anak-anak dicatat sebagai Kristen.
Tapi apakah hatinya berpindah? Nggak.
Selama bertahun-tahun, ada satu hal yang nggak pernah hilang dari hati Ibu Titik: kerinduan pada Islam.
Dia pernah shalat diam-diam. Puasa sembunyi-sembunyi. Hatinya selalu bergetar saat dengar takbir.
“Kalau dengar Allahu Akbar mau tarawih itu sedih banget. Pengen banget balik…”
Anak-Anak yang Jadi Jalan Hidayah
Menjelang akhir 2024, adik Alvian lebih dulu bersyahadat. Nggak lama, Alvian menyusul.
Bagi seorang ibu, melihat anak-anaknya kembali ke Islam adalah getaran batin yang luar biasa. Apa yang dulu jadi kerinduan terpendam, kini nyata di depan mata.
Dan ada satu kalimat yang paling menyentuh dari Ibu Titik:
“Aku takut kalau meninggal nanti bukan diislamkan.”
Bukan takut akan formalitas. Tapi kesadaran tentang akhir hidup.
Akhir yang Indah
Dengan penuh kesadaran, Ibu Titik kembali bersyahadat. Tangis haru pecah. Anak-anak menyaksikan sendiri ibu mereka kembali ke pangkuan Islam.
Beberapa bulan setelah bersyahadat, sang ibu wafat. Dalam keadaan Muslimah. Dalam keadaan beriman.
Alhamdulillah.
Kisah ini ngajarin kita satu hal: hidayah nggak selalu datang lewat ceramah besar. Kadang lewat anak sendiri. Lewat doa yang nggak pernah putus. Lewat kerinduan hati yang selalu kembali pada Allah.
Dan Allah Maha Pengasih — Dia memberi kesempatan sebelum ajal menjemput.
Source: ayasofya.id






