Mas Malik & Lina Pertiwi: Mantan Sekretaris Gereja yang Sabar Hadapi Ujian Berat demi Islam

Mas Malik & Lina Pertiwi: Mantan Sekretaris Gereja yang Sabar Hadapi Ujian Berat demi Islam
https://mx.pinterest.com/pin/1048846200703493425/

MasyaAllah, kisah yang satu ini bener-bener nunjukin bahwa ujian keimanan bisa datang dari arah mana aja. Dan di balik setiap ujian, ada ketenangan yang Allah siapkan.

Ini cerita Mas Malik dan Lina Pertiwi. Dua orang yang sama-sama menemukan Islam, tapi jalan mereka penuh dengan tantangan yang bikin hati haru.

Mantan Sekretaris Gereja yang Jatuh Hati

Lina dulunya seorang Kristen Protestan yang taat. Bahkan dia menjabat sebagai sekretaris gereja.

Tapi benih Islam udah ditanamkan sejak kecil. Pas SD, dia sekolah di sekolah negeri yang mewajibkan kerudung dan pelajaran Islam. Diam-diam, dia bahkan ikut les Al-Qur’an — yang bikin neneknya marah besar.

Lalu dia bertemu Mas Malik. Justru Lina yang lebih dulu tertarik dan gigih mendekati Mas Malik. Sampai akhirnya dia menyatakan perasaannya.

Mas Malik, yang saat itu lagi kecewa dengan pernikahan sebelumnya, mengajukan syarat tegas: “Kamu harus belajar agama dan masuk Islam.”

Tanpa ragu, Lina menerima. Dan malam itu juga, dia bersyahadat.

Penolakan yang Menyakitkan

Keputusan Lina bikin gejolak besar di keluarganya. Keluarga pihak ayah — yang membiayai hidupnya — terang-terangan menolak Mas Malik.

Pernikahan mereka bahkan harus disembunyikan dari keluarga besar.

Yang paling pedih, saat ayah Lina sakit menjelang akhir hayatnya, dia lihat betapa keluarga ayahnya menunjukkan ketidakpedulian yang mendalam. Untuk antar ke rumah sakit, ibunya disuruh naik angkot — padahal kakak ipar punya mobil.

Pengalaman pahit itu justru menguatkan keyakinan Lina: dunia ini cuma sementara. Akhirat yang abadi.

Ujian Berat: Sakit, PHK, dan Kalimat yang Menyayat Hati

Ujian sesungguhnya datang setelah menikah. Mas Malik jatuh sakit parah — ginjal dan stroke. Badannya panas tinggi, nggak bisa jalan.

Bareng itu, Mas Malik di-PHK. Kesulitan ekonomi parah. Sampai susah bayar kontrakan.

Di saat keterpurukan itulah, Lina mendengar ucapan paling menyakitkan dari adik iparnya sendiri:

“Enggak usah dibawa ke dokter, kasih aja Baygon suruh mati. Suruh ikut sama ayahnya.”

Subhanallah. Bayangkan betapa terasingnya mereka saat itu.

Ketenangan di Tengah Badai

Tapi Lina nggak menyerah. Dia jadi pilar penyemangat suaminya. Berjuang sendiri cari bantuan, bahkan pakai jasa Maxim buat bawa Mas Malik ke rumah sakit.

Di balik semua ujian, pasangan ini menemukan ketenangan sejati dalam Islam.

“Kalau Allah masih sayang sama kita, kita bakalan diuji terus,” pegang mereka.

Mereka pilih bersyukur dan husnuzan pada Allah. Karena bantuan Allah selalu datang di saat yang nggak terduga — kayak datangnya makanan saat lapar, atau tempat tinggal saat nggak punya apa-apa.

Kisah Mas Malik dan Lina jadi pengingat: kalau udah tahu kebenaran, jangan balik ke belakang. Lihat ke depan. Ujian itu cara Allah menguatkan iman hamba-Nya. 🤍

Source: baitulmaqdis.com

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *