Subhanallah, dalam Islam ada satu dosa besar yang benar-benar ditegaskan keharamannya, yaitu riba. Nggak main-main nih, semua ulama sepakat kalau riba itu haram. Bahkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275, Allah ﷻ dengan tegas bilang: وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا yang artinya “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. Rasulullah ﷺ juga udah memperingatkan kita tentang bahayanya riba ini, sampai-sampai dimasukkin ke dalam tujuh dosa yang bisa menghancurkan kehidupan kita, seperti yang diriwayatkan dalam hadits Bukhari dan Muslim.
Nah, kalau kita ngomongin hukumnya, riba itu bener-bener haram dan masuk kategori dosa besar (kabair). Ini bukan cuma pendapat sembarangan lho, tapi udah ditegasin sama ulama-ulama besar kayak Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama.
Kalau diartiin secara bahasa, riba itu artinya “tambahan”. Tapi dalam syariat Islam, definisinya lebih detail nih. Para ulama punya definisi yang beda-beda dikit, tapi intinya sama: riba itu tambahan yang nggak ada gantinya dalam syariat, yang disyaratkan buat salah satu pihak dalam pertukaran harta. Atau lebih gampangnya, keuntungan yang didapat dengan cara yang nggak halal.
Ada dua jenis riba yang perlu kita waspadai:
- Riba An-Nasi’ah: Ini tuh riba yang paling sering kita temui, kayak bunga bank konvensional gitu. Jadi misalnya kamu pinjem duit, terus waktu bayar harus nambah lebih dari yang dipinjam karena waktu pelunasannya diundur. Yang kayak gini nih yang banyak terjadi di zaman jahiliyah dulu, makanya disebut juga riba jahiliyah. Bahkan, kata para ulama, riba yang ada di bank-bank konvensional sekarang ini lebih parah dari riba jahiliyah, soalnya tambahannya udah disyaratin dari awal.
- Riba Al-Fadhl: Nah, yang ini agak tricky. Ini riba yang terjadi waktu tuker-tukeran barang yang sejenis tapi nggak sama nilainya. Misalnya, tuker emas dengan emas yang beratnya beda, atau tuker kurma dengan kurma yang kualitasnya beda. Dalam hadits riwayat Muslim disebutin ada 6 jenis barang yang masuk kategori ini: emas, perak, gandum burr, gandum sya’ir, kurma, dan garam.
Astagfirullah, dampak riba tuh nggak main-main lho. Di dunia aja udah kena laknat Allah (hadits riwayat Muslim), bahkan Allah dan Rasul-Nya nyatain perang sama pelaku riba (Al-Baqarah 278-279). Belum lagi di akhirat nanti – naudzubillah – bakal dibangkitin dari kubur dalam keadaan kerasukan setan (hadits riwayat Thabrani yang dihasankan Syaikh Al-Albani), dan harus berenang di sungai darah (hadits riwayat Bukhari). Yang paling ngeri, kalau masih nekad lakuin riba setelah tau larangannya, ancamannya neraka (Al-Baqarah 275).
Al-Lajnah Ad-Daa-imah jelasin kenapa sih riba diharamkan? Karena di dalamnya ada unsur pemerasan terhadap orang miskin, bikin hutang jadi berlipat-lipat, dan nyiptain permusuhan. Belum lagi efek sampingnya: bikin males kerja, ketergantungan sama keuntungan riba, dan banyak kerusakan lainnya deh.
Terus gimana tuh sama undian hadiah umroh dari bank? Kalau banknya syariah dan hadiahnya buat motivasi nasabah, InsyaAllah masih boleh. Tapi kalau dari bank konvensional yang prakteknya riba, sebaiknya hadiahnya jangan dipake buat umroh pribadi, mending disalurin buat kepentingan umum aja.
Yang penting kita inget nih, riba tetep haram mau dikit atau banyak (QS. Ali Imran: 130). Ka’ab Al-Ahbar juga udah ngasih tau kita lewat haditsnya tentang bahaya riba meski jumlahnya kecil. Soalnya dampak buruknya tuh luas banget, mulai dari ilang keberkahan, kemiskinan, sampai – naudzubillah – su’ul khatimah.
Alhamdulillah, semoga kita semua dijauhin dari praktik riba ya. Mari kita cari rezeki yang halal dan berkah, supaya hidup kita tenang dunia akhirat. Aamiin Ya Rabbal Alamin.





