Katya Kotova, perempuan Rusia berusia 23 tahun, sudah tidak asing lagi dengan Islam. Sejak kecil, ia memiliki hubungan dekat dengan agama ini. Ketika Katya berusia tiga tahun, neneknya membawanya ke sebuah masjid untuk melihat sholat berjamaah. Pengalaman itu sangat membekas hingga kini masih segar dalam ingatannya. Saat itu, Katya berdiri di lantai dua masjid, memperhatikan para perempuan yang sedang sholat, sambil mengintip ke bawah di mana para pria melaksanakan sholat di lantai dasar.
Meskipun Katya tumbuh dalam keluarga yang menganut paham sekuler, ia tidak bisa melepaskan pengaruh kuat dari neneknya yang religius. Orang tua Katya memiliki latar belakang keagamaan yang berbeda; ayahnya adalah seorang Kristen Ortodoks Rusia, sementara ibunya adalah Muslim Tatar. Namun, mereka tidak begitu taat pada kepercayaan masing-masing. Justru nenek Katya yang menjadi teladan dalam menjalankan sholat lima waktu dan doa-doa Islami. Dari sang nenek, Katya mulai mengenal Islam dan sering mendengar lantunan doa-doa dalam bahasa Arab.
Ketika berusia 13 tahun, Katya dibaptis menjadi Kristen Ortodoks. Ia mulai merasa lebih seperti kebanyakan orang Rusia, mengenakan kalung salib dan perlahan meninggalkan kebiasaan mengucapkan doa-doa dalam bahasa Arab. Meskipun kakaknya tetap menjadi seorang Kristen Ortodoks yang taat, Katya sendiri terus mencari dan menggali makna hidup. Di usia 18 tahun, Katya pindah ke Moskow untuk melanjutkan studinya di bidang hukum di Universitas Negeri Rusia. Ia bercita-cita menjadi pengacara yang berjuang demi keadilan. Selama masa kuliah, Katya tinggal sekamar dengan seorang kawan Muslimah, dan mereka sering berdiskusi tentang agama. Ketertarikannya terhadap Islam kembali tumbuh, dan ia pun membaca buku-buku tentang agama ini.
Seiring waktu, Katya semakin merasakan kedekatan dengan Islam. Pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan bagaimana menjalani hidup akhirnya menemukan jawabannya dalam ajaran Islam. Beberapa bulan sebelum wisuda, Katya menyelesaikan magang di Komite Investigatif, Moskow, dengan tujuan meniti karier di sana. Namun, saat itu hasratnya untuk berpindah agama kian membesar. Pada 30 Maret 2016, Katya mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Agung Moskow. Keputusan ini mengejutkan rekan-rekannya di Komite Investigatif, tetapi bagi Katya, ini adalah langkah menuju kedamaian dan ketenteraman jiwa. Tanpa menunggu lama, ia pun memutuskan untuk konsisten mengenakan hijab.
Setelah memeluk Islam, suasana kerja di Komite Investigatif dirasakan Katya kurang kondusif. Oleh karena itu, ia perlahan mencari pekerjaan baru, bahkan jika harus meninggalkan dunia hukum. Katya kemudian berhijrah ke Dagestan dan bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe halal. Meski meninggalkan karier yang telah dicita-citakan, Katya tidak menyesali keputusannya. Dia terinspirasi oleh kisah Irena Sendler, yang menyelamatkan ribuan anak selama Perang Dunia II, Valentina Tereshkova, perempuan Uni Soviet pertama yang menjadi kosmonaut, dan Malala Yousafzai, aktivis HAM. Katya masih memiliki semangat untuk berkontribusi dalam dunia aktivisme keadilan, terutama dalam membantu perempuan dan anak-anak di Rusia.
Katya percaya bahwa seorang Muslimah seharusnya membawa perdamaian dan ketenteraman, terutama bagi keluarganya. Dia bersyukur memiliki keluarga yang mendukung keputusannya untuk berhijab dan menjalankan kehidupan Islami. Orang tuanya menghormati pilihannya dan memahami komitmennya terhadap Islam. Bagi Katya, menjaga nama baik keluarga adalah bentuk baktinya kepada orang tua.
Ditulis kembali dari cerita di: https://khazanah.republika.co.id/berita/p06gxg313/katya-kotova-muslimah-itu-pembawa-perdamaian-ketenteraman






