Perjalanan Spiritual Terakhir Freddy Budiman: Dari Gembong Narkoba Menjadi Hamba Allah yang Bertaubat
Kisah ini sungguh menggetarkan hati. Freddy Budiman, seorang nama yang pernah jadi momok menakutkan di dunia narkoba Indonesia, mengalami perubahan drastis menjelang detik-detik terakhir hidupnya. Siapa sangka, gembong narkoba yang dulu dikenal kejam ini akhirnya menemukan jalan pulang ke pangkuan-Nya?
Cerita ini bermula dari Hasan Makarim, sosok yang udah puluhan tahun jadi pembimbing rohani di Lapas Nusakambangan. Sejak 2008, beliau dapat tugas spesial buat nemenin para terpidana mati. Nah, salah satunya adalah Freddy Budiman, yang divonis mati gara-gara nyeludupin 1,4 juta pil ekstasi dari Cina ke Indonesia. Gila kan?
Tiga hari sebelum eksekusi, tiba-tiba aja Freddy minta ketemu sama Hasan. Padahal mereka belum pernah kenal sebelumnya. Gak ada yang tau apa alasannya. Pas Hasan masuk ke sel Freddy, dia kaget banget ngeliat Freddy lagi baca Al-Quran di atas sajadah. Subhanallah, pemandangan yang bikin hati terenyuh.
“Saya berubah mulai hari ini di Nusakambangan, saya hijrah,” kata Freddy waktu itu. Hasan pun nyemangatin dia, “Kapan lagi, jenengan ini pidana berat, pidana maksimal hukuman mati, segeralah bertobat.”
Bener aja, Hasan ngeliat perubahan luar biasa dalam diri Freddy. Hari-harinya cuma diisi ibadah dan baca Al-Quran. MasyaAllah, Allah emang Maha Pengampun ya?
Akhirnya, tibalah malam eksekusi. Hujan turun begitu derasnya, petir menyambar-nyambar, banjir lumpur sampe sedengkul. Gelap gulita, senter cuma dipegang petugas tertentu. Suasananya mencekam abis.
“Satu hal yang sangat istimewa, ketika saya di lokasi itu duduk bersebelahan sama Freddy, sebelum ke depan dipasang. Hujan deras dan petir yang paling gede. Banjir lumpur. Percuma itu tenda, basah kuyup, dan saya denger petir itu sambil pelukan sama Freddy Budiman, sambil zikir dan berdoa semoga gak kena sambaran petir,” cerita Hasan dengan penuh emosi.
Setelah hujan reda, Hasan membisikkan doa dan zikir ke Freddy. Dia fokuskan pikiran, hati, dan doanya buat dinaikin ke langit yang paling atas. Terus megang dada dan tangan Freddy. “Sesudah tenang, saya lepas pelukan itu, terus minggir ke belakang, selesai,” ujarnya.
Yang paling bikin haru, sore sebelum eksekusi, Hasan ngumpulin seluruh keluarga Freddy buat sholat Ashar berjamaah. Freddy jadi imam, Hasan jadi makmum. “Saya kasih penghargaan ke dia, penghargaan ngadepin ujian yang sangat berat, sebagai pemimpin sholat. Dan saya jadi makmumnya, biarin dia jadi percaya diri. Bangun kekuatan imannya,” kata Hasan.
Freddy bahkan minta Hasan buat ikut letakin jenazahnya ke liang lahat. Tapi karena udah capek banget, Hasan minta maaf ke keluarga Freddy karena gak bisa ikut pemakaman di Surabaya.
“Begitu udah selesai, badan saya capek banget. Saya bilang ke ibunya dan keluarganya, maafin saya gak bisa lanjut, saya udah capek. Saya diizinin. ‘Dengan ridha dan ikhlas ibu, saya sertai doa buat ananda’,” tutup Hasan.
Allahuakbar, kisah ini bener-bener ngajarin kita bahwa pintu taubat selalu terbuka, bahkan bagi mereka yang pernah berbuat dosa besar. Semoga Allah menerima taubat Freddy dan mengampuni dosa-dosanya. Aamiin ya Rabbal Alamin.
Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/pzvm7o320/kisah-tobatnya-freddy-gembong-narkoba-jelang-eksekusi-mati






